3.03.2012

Kerja Enzim


BAB 1
PENDAHULUAN
Latar belakang Masalah
Dalam Kehidupan sehari-hari  ,banyak kegiatan yang kita lakukan yang  berkaitan  tentang praktikum kimia fisika yang sudah kami pelajari.Terdapat beberapa aplikasi dari kinetika reaksi kimia,yang berhubungan dengan laju reaksi atau termodinamika.. Penerapan konsep laju reaksi dalam kehidupan sehari-hari berkaitan dengan faktor- faktor yang memengaruhi laju. Dengan mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi lajunya, suatu reaksi dapat dikontrol. Reaksi-reaksi yang bermanfaat dapat dipercepat untuk memberikan hasil yang diinginkan. Contohnya adalah kayu bakar dipotong kecil-kecil hingga mudah terbakar. Proses pematangan buah dapat dipercepat dengan menambahkan gas asetilena yang dihasilkan dari reaksi karbit dengan air. Proses memasak akan lebih cepat jika api dibesarkan. Reaksi-reaksi yang merugikan dapat di perlambat sehingga lebih awet. Contohnya adalah reaksi perkaratan dan pembusukan. Reaksi perkaratan dapat dihambat dengan cara pengecatan. Sementara itu, reaksi pembusukan dapat diperlambat dengan cara menyimpan dalam keadaan dingin.Penggunaan katalis dalam bidang industri.
Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah
·         Sebagai penyelesaian  tugas  praktikum kimia fisika
·         Sebagai bahan refrensi  atau bahan kajian para mahasiswa mengenai aplikasi kinetika reaksi  kimia
Metode Pengumpulan Data
Dalam penulisan makalah ini, penulis secara umum mendapatkan bahan tulisan dari berbagai referensi, baik dari tinjauan kepustakaan dan sumber media internet seperti jurnal.
Batasan Masalah
Makalah ini membahas mengenai aplikasi atau penerapan kinetika reaksi kimia  dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II
ISI


Dalam kehidupan sehari-hari,beberapa kegiatan yang  kita lakukan berhubungan dengan aplikasi dari ilmu kimia fisika. Di bawah ini disajikan beberapa peranannya,yaitu

1.      PERANAN DALAM KERJA ENZIM

Enzim yang terdapat di dalam tubuh berfungsi untuk mempercepat proses metabolisme. Enzim juga menyebabkan metabolisme berlangsung dalam suhu rendah.Enzim bekerja sangat spesifik hanya pada reaksi-reaksi tertentu. Zat dipercepat reaksinya dinamakan subtrat yang akan bereaksi dengan enzim menghasilkan produk. Pada akhir reaksi, enzim akan kembali terbentuk seperti semula. Penguraian nasi menjadi glukosa-glukosa merupakan salah satu reaksi yang melibatkan enzim. Reaksi penguraian nasi berlangsung lambat dan membutuhkan suhu tinggi jika dilakukan di luar tubuh atau di laboratorium. Namun, jika dilakukan di dalam tubuh, maka prosesnya berlangsung cepat dan dengan suhu rendah karena enzim berfungsi sebagai katalisdalam proses metabolisme yang terjadi di dalam tubuh.
Enzim dapat bekerja dengan beberapa cara, yang kesemuaannya menurunkanΔG‡:
  • Menurunkan energi aktivasi dengan menciptakan suatu lingkungan yang mana keadaan transisi terstabilisasi (contohnya mengubah bentuk substrat menjadi konformasi keadaan transisi ketika ia terikat dengan enzim.)

Stabilisasi keadaan transisi

Pemahaman asal usul penurunan ΔG‡ memerlukan pengetahuan bagaimana enzim dapat menghasilkan keadaan transisi reaksi yang lebih stabil dibandingkan dengan stabilitas keadaan transisi reaksi tanpa katalis. Cara yang paling efektif untuk mencapai stabilisasi yang besar adalah menggunakan efek elektrostatik, terutama pada lingkungan yang relatif polar yang diorientasikan ke distribusi muatan keadaan transisi. Lingkungan seperti ini tidak ada dapat ditemukan pada reaksi tanpa katalis di air.



TERMODINAMIKA
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/fe/Carbonic_anhydrase_reaction_in_tissue.svg/300px-Carbonic_anhydrase_reaction_in_tissue.svg.png
Tahapan-tahapan energi pada reaksi kimia. Substrat memerlukan energi yang banyak untuk mencapai keadaan transisi, yang akan kemudian berubah menjadi produk. Enzim menstabilisasi keadaan transisi, menurunkan energi yang diperlukan untuk menjadi produk.
Sebagai katalis, enzim tidak mengubah posisi kesetimbangan reaksi kimia. Biasanya reaksi akan berjalan ke arah yang sama dengan reaksi tanpa katalis. Perbedaannya adalah, reaksi enzimatik berjalan lebih cepat. Namun, tanpa keberadaan enzim, reaksi samping yang memungkinkan dapat terjadi dan menghasilkan produk yang berbeda.
Lebih lanjut, enzim dapat menggabungkan dua atau lebih reaksi, sehingga reaksi yang difavoritkan secara termodinamik dapat digunakan untuk mendorong reaksi yang tidak difavoritkan secara termodinamik. Sebagai contoh, hidrolsis ATP sering kali menggunakan reaksi kimia lainnya untuk mendorong reaksi.
Enzim mengatalisasi reaksi maju dan balik secara seimbang. Enzim tidak mengubah kesetimbangan reaksi itu sendiri, namun hanya mempercepat reaksi saja. Sebagai contoh, karbonat anhidrase mengatalisasi reaksinya ke dua arah bergantung pada konsentrasi reaktan.
\mathrm{CO_2 + H_2O \xrightarrow{Karbonat\ anhidrase}
H_2CO_3}(dalam jaringan tubuh; konsentrasi CO2 yang tinggi)
\mathrm{H_2CO_3 \xrightarrow{Karbonat\ anhidrase}
CO_2 + H_2O}(pada paru-paru; konsentrasi CO2 yang rendah)
Walaupun demikian, jika kesetimbangan tersebut sangat memfavoritkan satu arah reaksi, yakni reaksi yang sangat eksergonik, reaksi itu akan menjadi ireversible. Pada kondisi demikian, enzim akan hanya mengatalisasi reaksi yang diijinkan secara termodinamik.

Kinetika

 Kinetika enzim

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/9/96/Simple_mechanism.svg/300px-Simple_mechanism.svg.png
Mekanisme reaksi enzimatik untuk sebuah subtrat tunggal. Enzim (E) mengikat substrat (S) dan menghasilkan produk (P).Kinetika enzim menginvestigasi bagaimana enzim mengikat substrat dengan mengubahnya menjadi produk. Data laju yang digunakan dalam analisa kinetika didapatkan dari asai enzim.
Pada tahun 1902, Victor Henri, mengajukan suatu teori kinetika enzim yang kuantitatif, namun data eksperimennya tidak berguna karena perhatian pada konsentrasi ion hidrogen pada saat itu masih belum dititikberatkan. Setelah Peter Lauritz Sørensen menentukan skala pH logaritmik dan memperkenalkan konsep penyanggaan (buffering) pada tahun 1909, kimiawan Jerman Leonor Michaelis dan murid bimbingan pascadokotoralnya yang berasal dari Kanada, Maud Leonora Menten, mengulangi eksperimen Henri dan mengkonfirmasi persamaan Henri. Persamaan ini kemudian dikenal dengan nama Kinetika Henri-Michaelis-Menten (kadang-kadang juga hanya disebut kinetika Michaelis-Menten). Hasil kerja mereka kemudian dikembangkan lebih jauh oleh G. E. Briggs dan J. B. S. Haldane. Penurunan persamaan kinetika yang diturunkan mereka masih digunakan secara meluas sampai sekarang .
Salah satu kontribusi utama Henri pada kinetika enzim adalah memandang reaksi enzim sebagai dua tahapan. Pada tahap pertama, subtrat terikat ke enzim secara reversible, membentuk kompleks enzim-substrat. Kompleks ini kadang-kadang disebut sebagai kompleks Michaelis. Enzim kemudian mengatalisasi reaksi kimia dan melepaskan produk.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/99/Michaelis-Menten_saturation_curve_of_an_enzyme_reaction.svg/300px-Michaelis-Menten_saturation_curve_of_an_enzyme_reaction.svg.png

Kurva kejenuhan suatu reaksi enzim yang menunjukkan relasi antara konsentrasi substrat (S) dengan kelajuan (v).
Enzim dapat mengatalisasi reaksi dengan kelajuan mencapai jutaan reaksi per detik. Sebagai contoh, tanpa keberadaan enzim, reaksi yang dikatalisasi oleh enzim orotidina 5'-fosfat dekarboksilase akan memerlukan waktu 78 juta tahun untuk mengubah 50% substrat menjadi produk. Namun, apabila enzim tersebut ditambahkan, proses ini hanya memerlukan waktu 25 milidetik. Laju reaksi bergantung pada kondisi larutan dan konsentrasi substrat. Kondisi-kondisi yang menyebabkan denaturasi protein seperti temperatur tinggi, konsentrasi garam yang tinggi, dan nilai pH yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan menghilangkan aktivitas enzim. Sedangkan peningkatan konsentrasi substrat cenderung meningkatkan aktivitasnya. Untuk menentukan kelajuan maksimum suatu reaksi enzimatik, konsentrasi substrat ditingkatkan sampai laju pembentukan produk yang terpantau menjadi konstan. Hal ini ditunjukkan oleh kurva kejenuhan di samping.
Kejenuhan terjadi karena seiring dengan meningkatnya konsentrasi substrat, semakin banyak enzim bebas yang diubah menjadi kompleks substrate-enzim ES. Pada kelajuan yang maksimum (Vmax), semua tapak aktif enzim akan berikatan dengan substrat, dan jumlah kompleks ES adalah sama dengan jumlah total enzim yang ada. Namun, Vmax hanyalah salah satu konstanta kinetika enzim. Jumlah substrat yang diperlukan untuk mencapai nilai kelajuan reaksi tertentu jugalah penting. Hal ini diekspresikan oleh konstanta Michaelis-Menten (Km), yang merupakan konsentrasi substrat yang diperlukan oleh suatu enzim untuk mencapai setengah kelajuan maksimumnya. Setiap enzim memiliki nilai Km yang berbeda-beda untuk suatu subtrat, dan ini dapat menunjukkan seberapa kuatnya pengikatan substrat ke enzim. Konstanta lainnya yang juga berguna adalah kcat, yang merupakan jumlah molekul substrat yang dapat ditangani oleh satu tapak aktif per detik.
Efisiensi suatu enzim diekspresikan oleh Km. Ia juga disebut sebagai konstanta kespesifikan dan memasukkan tetapan kelajuan semua langkah reaksi. Karena konstanta kespesifikan mencermikan kemampuan katalitik dan afinitas, ia dapat digunakan untuk membandingkan enzim yang satu dengan enzim yang lain, ataupun enzim yang sama dengan substrat yang berbeda. Konstanta kespesifikan maksimum teoritis disebut limit difusi dan nilainya sekitar 108 sampai 109 (M-1/s). Pada titik ini, setiap penumbukkan enzim dengan substratnya akan menyebabkan katalisis, dan laju pembentukan produk tidak dibatasi oleh laju reaksi, melainkan oleh laju difusi. Enzim dengan sifat demikian disebut secara katalitik sempurna ataupun secara kinetika sempurna.
2.      PERANAN DALAM STUDI KINETIKA REAKSI EPOKSIIDA MINYAK ATSIRI 
            Reaksi epoksidasi menghasilkan trigliserida terepoksidasi yang mempunyai peran penting dalam industri plastik dan bahan aditif untuk polivinil klorida (PVC). Selama ini, bahan baku yang digunakan merupakan bahan berbasis minyak bumi. Penggunaan bahan baku ini dapat menimbulkan dampak negatif. Berdasarkan alasan-alasan di atas, mulai dicari bahan baku alternatif yang dapat diperbaru. Salah satunya adalah minyak nabati sehingga penelitian ini pun ditekankan pada reaksi epoksidasi minyak nabati.  Minyak nabati yang digunakan adalah minyak sawit
 Pada penelitian ini akan dipelajari mengenai pengaruh waktu dan suhu reaksi terhadap jumlah bilangan epoksida, dan menentukan parameter kinetika reaksi. Reaksi epoksidasi adalah reaksi oksidasi ikatan rangkap dalam minyak oleh oksigen aktif membentuk senyawa epoksida. Epoksida minyak dapat digunakan secara langsung sebagai pemlastis yang sesuai untuk polivinil klorida (PVC) dan sebagai penstabil resin PVC untuk meningkatkan fleksibilitas, elastisitas, kekuatan dan untuk mempertahankan stabilitas polimer terhadap perpindahan panas Penelitian ini dipandang perlu karena dapat memberikan informasi tentang pengaruh suhu dan waktu reaksi terhadap jumlah senyawa epoksida yang dihasilkan, konstanta kecepatan reaksi (k), tetapan frekuensi tumbukan (A), dan energi aktivasi (Ea).
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh waktu dan suhu reaksi terhadap persentase bilangan epoksida dan pengaruh suhu reaksi terhadap parameter kinetika reaksi..
Bahan dan Metode Penelitian

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah minyak, asam format, hidrogen peroksida, benzena, aquadest dan reagen-reagen untuk analisa bilangan iod antara lain kalium iodide, karbon tetraklorida, natrium tiosulfat, larutan Wijs, dan indikator amilum.
Sebelum menjalankan penelitian, dilakukan analisa bilangan iod pada bahan baku minyak. Penelitian ini dilakukan dengan mereaksikan 100 ml minyak, 50 ml asam format, dan 250 ml benzene di dalam labu leher tiga. 100 ml hidrogen peroksida ditambahkan tetes demi tetes ke dalam labu setelah kondisi operasi tercapai. Pengadukan menggunakan magnetic stirrer dilakukan saat penambahan hidrogen peroksida. Reaksi epoksidasi ini merupakan reaksi eksotermis dan diinginkan kondisi isoternal sehingga selama waktu reaksi, suhu operasi terus dipertahankan dengan menambah air pemanas maupun air pendingin. Setelah waktu reaksi tercapai, hasil reaksi yang terdiri dari dua lapisan (minyak dan solvent) dipisahkan. Minyak hasil pemisahan ini kemudian didistilasi untuk mengambil solvent yang terlarut dalam minyak. Kemudian dilakukan pengecekan pH terhadap minyak hasil distilasi. Minyak tersebut selanjutnya dicuci menggunakan aquadest panas sebanyak dua kali pada tiap sampel selama 15 menit untuk menghilangkan sisa asam. Minyak dan aquadest pencuci dipisahkan dengan corong pemisah lalu minyak tersebut dianalisa kadar epoksidanya.



Hasil dan Pembahasan

Pengaruh Waktu Reaksi terhadap Jumlah Bilangan Epoksida (% epoksida) pada Suhu 30oC, 40oC,dan 50oC .Secara teori, epoksidasi minyak sawit menghasilkan senyawa epoksida yang ditandai dengan kenaikan bilangan epoksidanya. Dengan membuat plot grafik hubungan persen epoksida sebagai fungsi waktu reaksi, akan terlihat pengaruh waktu terhadap bilangan epoksida produk.

Gambar  Persen (%) epoksida sebagai fungsi dari waktu reaksi

Dari gambar  dapat diketahui bahwa pada suhu 30oC,40oC, dan 50oC secara umum semakin lama waktu reaksi, persentase epoksida yang terbentuk cenderung semakin besar. Hal ini dapat dilihat terutama pada kondisi suhu 30oC dan 40oC variabel waktu 1,2, dan 3 jam. Hal ini disebabkan semakin lama waktu reaksi maka kesempatan molekul-molekul zat pereaksi untuk saling bertumbukan semakin luas, disamping itu ikatan rangkap yang terdapat dalam minyak sawit semakin banyak mengalami oksidasi pembukaan ikatan rangkap oleh asam peroksiformat. Keberadaan benzene dalam reaksi juga akan meminimalkan pembukaan cincin oksiran/epoksida, sehingga senyawa epoksida yang terbentuk lebih banyak.
Berbeda untuk variabel waktu 4 jam, dimana epoksida yang terbentuk cenderung mengalami penurunan sedangkan pada suhu 50oC, semakin lama waktu reaksi, persentase epoksida yang terbentuk cenderung semakin besar, namun setelah 2 jam reaksi peningkatan bilangan epoksida tidak terlalu signifikan atau cenderung konstan. Hal ini dapat disebabkan karena penelitian ini dilakukan dengan proses batch-paralel, yang artinya bahan baku yang digunakan untuk masing-masing variabel merupakan bahan baku baru sehingga ada kemungkinan bahwa jumlah ikatan rangkap di tiap bahan baku berbeda. Perbedaan jumlah ikatan rangkap ini disebabkan oleh ikatan rangkap di dalam minyak jumlahnya bervariasi (terdapat di dalam range tertentu).
Minyak yang digunakan sebagai bahan baku variabel 50oC mungkin memiliki ikatan rangkap yang lebih sedikit dibanding dengan minyak pada variabel lainnya, hal ini akan menyebabkan pembentukan senyawa epoksida pada variabel 50oC akan lebih cepat mengalami kesetimbangan dibanding dua variabel lainnya yang ditandai dengan konstannya jumlah bilangan epoksida.
Dari grafik juga dapat dilihat bahwa jumlah epoksida yang dihasikan pada variabel 30oC lebih besar dari pada epoksida pada 40oC dan 50oC. Hal ini dapat disebabkan oleh reaksi pembentukan asam peroksiformat merupakan reaksi reversibel dan eksotermis, sehingga pembentukan asam peroksiformat tidak dapat sempurna karena akan selalu ada asam peroksiformat yang kembali menjadi asam format dan hidrogen peroksida serta apabila suhu reaksi dinaikkan maka konversi pembentukan asam peroksiformat akan berkurang. Berkurangnya konversi asam peroksiformat tentu akan mempengaruhi (mengurangi) oksidasi ikatan rangkap minyak dan berakibat pada jumlah senyawa epoksida yang dihasilkan.

Menentukan Parameter Kinetika Konstanta Kecepatan Reaksi (k)
Pada penelitian ini, kinetika reaksi didasarkan pada kecepatan terbentuknya epoksi yang dinyatakan dalam % oksiran. Nilai konstanta kecepatan reaksi dapat dihitung melalui persamaan:
ln[(H2O2)o – (Ep)] = -k1 . (HCOOH)o . t + ln (H2O2)o
Kemudian dari persamaan ini dapat dibuat grafik :
Gambar Hubungan waktu reaksi dengan ln ((H2O2)o-(Ep)) untuk epoksidasi minyak sawit menggunakan asam peroksiformat dengan keberadaan benzene .Dengan pendekatan least square, dapat dihitung nilai konstanta kecepatan reaksi pada masing-masing variabel suhu, hasilnya adalah pada suhu 30oC adalah sebesar 1,523864 x 10-4 l/mol detik, pada suhu 40oC sebesar 1,01755 x 10-5 l/mol detik, dan pada suhu 50oC sebesar 3,353358 x 10-4 l/mol detik.

Menghitung Nilai Faktor Frekuensi Tumbukan (A) dan Energi Aktivasi (Ea)
Dari data konstanta kecepatan reaksi, dapat dihitung nilai A dan Ea berdasarkan persamaan Arrhenius.
k = A e –E/RT
Persamaan ini dilinierisasi menjadi :
ln k = ln A – E/RT
dari perhitungan didapat nilai A = 6,51 l/mol det dan nilai Ea = 29,391 kJ/mol.

 Kesimpulan

Secara umum semakin lama waktu reaksi, persentase epoksida yang terbentuk pada suhu 30oC,40oC, dan 50oC cenderung semakin besar. Nilai konstanta kecepatan reaksi (k) untuk suhu 50oC sebesar 3,353358 x 10-4 l/mol detik, pada suhu 40 sebesar 1,01755 x 10-5 l/mol detik, dan pada suhu 30oC sebesar 1,523864 x 10-4 l/mol detik.
3.      Kinetika Reaksi Transesterifikasi CPO terhadap Produk Metil Palmitat dalam Reaktor Tumpak

Kebutuhan bahan bakar untuk mesin disel di Indonesia tiap tahunnya semakin meningkat seiring denganpertambahan jumlah mesin industri dan jumlah kendaraan bermesin disel. Dengan semakin terbatasnya cadangan minyak bumi, maka perlu dicari alternatif sumber energi baru. Saat ini mulai dikembangkan penggunaan metal ester yang diperoleh dari minyak nabati (biodisel) sebagai sumber energi alternatif. Penggunaan biodisel pada mesin disel dapat mengurangi emisi hidrokarbon tak terbakar, karbon monooksida, sulfat, hidrokarbon polisiklis
aromatik, nitrat hidrokarbon polisiklis aromatik dan partikel padatan. Minyak nabati yang sedang dikembangkan sekarang adalah CPO, tidak dapat digunakan langsung pada mesin karena viskositasnya yang tinggi. Reaksi transesterifikasi pada CPO dapat memecah rantai trigliseridamenjadi lebih pendek dengan  menggunakan katalis asam atau basa.

Ada 3 tahapan reaksi transesterifikasi, yaitu pembentukan produk antara digliserida dan monogliserida(MG) yang akhirnya membentuk 3 mol metil ester (POME) dan 1 mol gliserol (GL). Reaksi overall transesterifikasi adalah sebagai berikut :

Katalis yang umum digunakan untuk reaksi transesterifikasi adalah katalis asam dan basa. Untuk katalis asam biasanya digunakan asam sulfonat dan asam sulfat sedangkan katalis basa digunakan NaOH, KOH dan NaOCH3. Reaksi transesterifikasi dengan katalis basa lebih cepat 4000 kali dibandingkan katalis asam, dan juga katalis alkali tidak sekorosif katalis asam (Srivastava,1999). Logam alkali alkoksida (seperti CH3ONa untuk metanolisis) adalah katalis yang paling aktif dengan memberikan hasil yang sangat tinggi (>98%) pada waktu reaksi yang singkat yaitu selama 30 menit dan konsentrasi katalis yang rendah (0,5 %mol).
Laju reaksi transesterifikasi juga sangat dipengaruhi oleh suhu reaksi. Reaksi transesterifikasi dapat berlangsung sempurna pada suhu kamar dengan waktu reaksi yang cukup lama. Umumnya suhu reaksi yang terjadi mengikuti suhu didih metanol (60-70 0C) pada tekanan atmosferik. Hasil reaksi yang maksimum didapatkan pada kisaran suhu reaksi antara 60-80 0C dengan perbandingan mol alkohol dengan minyak (6:1).  

Apabila terjadi kenaikan suhu maka hal ini dapat mengurangi hasil reaksi.
Kondisi reaksi diatas berlaku apabila menggunakan CPO sebagai bahan baku. Apabila menggunakan bahan minyak yang berbeda maka suhu reaksinya juga akan berbeda. Kinetika reaksi transesterifikasi untuk minyak nabati sudah dilaporkan oleh beberapa peneliti. Freedman dkk. mempelajari kinetika reaksi transesterifikasi minyak kedelai dengan metanol dan butanol, yang dikatalisis oleh  asam dan basa .Kusdiana dan Saka mempelajari kinetika reaksi transesterifikasi dari rapeseed oil dalam metanol superkritis, reaksi transesterifikasi tanpa katalis



 Metodologi

Diagram alir dari penelitian ini ditunjukkan oleh gambar berikut ini:

Preparasi Sampel

CPO yang digunakan perlu ditentukan terlebih dahulu kadar air dan bilangan asam. Kadar air diuji denganmetoda gravimetri pada suhu 105 oC. Pengujian bilangan asam mengikuti prosedur dari JECFA-FAO. Jika bilangan asam tinggi perlu penetralan, dan jika kadar air tinggi dilakukan pengeringan untuk meningkatkankualitas CPO. Peningkatan kualitas CPO dilakukan untuk mengurangi asam lemak bebas di dalamnya, yaitu dengan penambahan Na2CO3 pada 90oC.

Reaksi Transesterifikasi dalam Reaktor Tumpak

Reaksi transesterifikasi dilakukan dalam reaktor tumpak yang dilengkapi dengan pemanas, agitator,kondenser, dan thermometer.Pada reaktor tumpak dilakukan variasi suhu 55 oC, 60 oC, 65 oC, dan 70 oC. Kondisi standar yang digunakan adalah perbandingan reaktan (6 :1), jumlah katalis 1% dan kecepatan agitator 195 rpm. CPO high quality sebanyak 200 g dimasukkan ke dalam reaktor tumpak dan suhu dijaga tetap selama reaksi berlangsung.
Katalis NaOH dicampurkan dengan metanol untuk membentuk NaOCH3. sodium metoksida ini kemudian dimasukkan ke dalam reaktor tumpak dengan perlahan. Reaksi dilakukan selama 1,5 jam. Sampel produk diambil pada tiap selang waktu 5, 10, 15, 25, 35, 50, 70 dan 90 menit, untuk diuji konsentrasinya.




Analisis Produk

Produk POME yang diasumsikan sebagai metal palmitat, dianalisis dengan menggunakan Gas Chromatography (GC) jenis FID. Kolom yang digunakan jenis packed kolom dengan jenis packing GP 3% SP-2310/2%SP-2300 on Chromosorb W AW produksi Supelco. Panjang kolom 1 m x ¼“ stainless steel dengan suhu
oven 190-220oC dan suhu injektor 240oC.

Hasil dan Diskusi

Dari pengujian bilangan asam dan kadar air CPO didapatkan hasil seperti pada Tabel  berikut ini:
Pengaruh Suhu pada Reaktor Tumpak

CPO pada suhu ruang berbentuk semisolid, maka suhu minimum yang digunakan dalam penelitian ini adalah 55oC. Apabila suhu dibawah 50oC maka viskositas minyak yang tinggi (39,6 mm2/s) akan menimbulkan masalah pada saat pengadukan .Variasi suhu yang dilakukan adalah 55, 60, 65 dan 70oC. Hasil reaksi yang dinyatakan dengan konsentrasi metil palmitat dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar pengaruh suhu terhadap produk metil palmitat hasil analisis GC
Dari gambar, terlihat bahwa konsentrasi metil palmitat meningkat seiring dengan peningkatan suhu.Terlihat pada suhu 50oC konsentrasi metil palmitat hanya 11,91%, dan kemudian meningkat menjadi 12,53%pada saat suhu 70oC.


Kinetika Reaksi Pada Reaktor Tumpak

Kinetika reaksi pada reaktor tumpak dibuat dengan berdasarkan reaksi transesterifikasi overall, dengan asumsi bahwa reaktan yang digunakan sangat berlebih dan reaksi berlangsung irreversible. Model kinetika reaksi disusun mengikuti kinetika pseudo-first order. Reaksi overall transesterifikasi dapat dilihat pada persamaan reaksi.

Berdasarkan reaksi total tersebut dapat dibuat persamaan laju reaksinya:

r = k[TG][ROH]3

Alkohol yang digunakan sangat berlebih sehingga konsentrasi dari alkohol selama reaksi dapat dianggap tetap.Pada kondisi ini perubahan jumlah alkohol pada reaksi tidak akan mempengaruhi laju reaksi .Maka
Persamaan di atas dapat ditulis:
Persamaan ini merupakan persamaan kinetika orde satu. Persamaan ini diintegralkan dengan limit antara t = 0
sampai t = t dan konsentrasi dari [TG]0 pada saat t = 0 dan [TG] pada waktu tertentu.
 Sehingga persamaan di atas menjadi:
 
Persamaan  ini dapat digunakan untuk mencari konstanta laju reaksi (k). Harus diingat bahwa konsentrasi awal [TG]0 nilainya konstan.

Dari gambar di bawah ini juga dapat dilihat bahwa suhu berpengaruh pada besarnya k. Kenaikan dari nilai k terlihat pada suhu 55-70oC.
Asumsi  digunakannya orde satu terbukti dapat digunakan karena dari plot antara Ln [TG] versus waktu berupa garis lurus.




Nilai k yang telah diperoleh dapat digunakan untuk menghitung besarnya energi aktivasi, yaitu dengan persamaan Arhenius:

k = Ae−Ea / RT


Persamaan tersebut dapat dirubah bentuknya menjadi:

Dari gambar diatas maka didapat energi aktivasi sebesar 6,195x103 J/mol.

 Kesimpulan

Hasil reaksi terbesar didapatkan pada kondisi suhu reaksi 70oC; 12,53 %, Besarnya kandungan FFA dan kandungan air dalam CPO sangat berpengaruh besar pada laju reaksi dan pada konsentrasi akhir metil ester. Adanya air di dalam metil ester akan membuat konsentrasi turun pada saat awal-awal reaksi yang semestinya laju reaksinya cepat, akibat terjadinya reaksi hidrolisis ester yang membentuk asam lemaknya kembali. Kenaikan suhu berpengaruh terhadap kenaikan konstanta laju reaksi. Konstanta laju reaksi untuk suhu 55-70 oC adalah 0,0002785-0,000304/menit. Energi aktivasi yang diperoleh adalah 6,195x103 J/mol.



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
·         Terdapat banyak peranan atau aplikasi bidang kinetika reaksi dalam kehidupan sehari-hari yang memberikan manfaat bagi kehidupan
·         Dengan mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi lajunya, suatu reaksi dapat dikontrol. Reaksi-reaksi yang bermanfaat dapat dipercepat untuk memberikan hasil yang diinginkan.
·         Suhu dan energy aktivitas mempengaruhi kerja enzim,yang dimana enzim memiliki peranan penting dalam tubuh yaitu dalam metabolisme
·         Peranan dalam studi kinetika reaksi epoksi minyak atsiri,yaitu semakin lama waktu reaksi, persentase epoksida yang terbentuk pada suhu 30oC,40oC, dan 50oC cenderung semakin besar.
·         Peranan dalam Kinetika Reaksi Transesterifikasi CPO terhadap Produk Metil Palmitat dalam Reaktor Tumpak,hasil reaksi terbesar didapatkan pada kondisi suhu reaksi 70oC; 12,53 %, Besarnya kandungan FFA dan kandungan air dalam CPO sangat berpengaruh besar pada laju reaksi dan pada konsentrasi akhir metil ester Kenaikan suhu berpengaruh terhadap kenaikan konstanta laju reaksi.


Saran
Untuk lebih memahami pokok bahasan ini diharapkan pada para pembaca untuk membaca resensi buku-buku,jurnal maupun artikel yang berhubungan dengan judul makalah ini.Penulis mengharapkan bahwa tulisan ini akan menjadi bahan pertimbangan bagi pembaca untuk berinovasi dan mampu menaplikasikan kinetika reaksi kimia dalam kehidupan sehari-hari dengan baik.





DAFTAR PUSTAKA


  • Gan, L.H., Goh, S.H., and Ooi, K.S., (1992), “Kinetic Studies of Epoxidation and Oxirane Cleavage of Palm Olein Methyl Esters”, JAOCS, vol. 69, pp. 347 – 351
  • Sidjabat, Oberlin dan Yunus Rahmat, (1995) “Studi Proses Transesterifikasi Minyak Kelapa Sawit Menjadi Bahan Bakar Motor Setara Solar”, Proceedings Diskusi Ilmiah VIII PPPTMGB Lemigas.
  • Srivastava, Anjana dan Prasad Ram, (1999),“Triglycerides–Based Diesel Fuels”, PERGAMON.
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Enzim
  • www.britannica.com/EBchecked/topic/190485/epoxide, 10/Juli/2009

2.22.2012

Hutan Tele (Kabupaten Samosir)


Hutan Tele, Samosir
Sebuah kawasan yang punya nilai wisata yang cukup di perhitungkan di kawasan kabupaten Samosir adalah Tele. Selain bernilai wisata, kawasan tele  memiliki  banyak fungsional dalam  roda kehidupan kabupaten samosir. Kawasan  ini adalah jalur utama keluar masuk ke kawasan kabupaten samosir. Melihat kondisi alam dari tele, tidak selayakanya kawasan ini jadi jalur utama suatu kabupaten. Bentuk alam yang bergunung dan terjal serta kawasan yang masih di di tumbuhi ilalang secara mayoritas membuat jalur darat keluar masuk samosir ini harus selalu  diwaspadai para pengendara yang   melalui jalur ini. Rawan longsor itulah yang selalu mewarnai jalur yang satu ini dan  juga bentuk jalan amat terjal sehingga pengendara harus penuh hati hati ketika harus melewati jalur ini. Harapan pengendara dan masyarakyat  bagi pemerintah setempat   untuk membenahi jalur ini,yang salah satu adalah dengan penanaman  pohon di seluruh kawasan ini. Kalangan LSM dan juga masyarakat setempat juga berusaha membantu peremajaan hutan di kawasan ini. Namun mungkin karena pengaruh kesuburan tanah dan ulah orang orang yang tidak bertanggung jawab sering membakar kawasan  ini sehingga susah di tumbuhi pohon dan sudah cukup lama usaha yang telah dilaksanakan, namun kawasan ini masi terlihat hanya di tumbuhi ilalang saja. Namun kini usaha orang orang yang peduli terhadap kondisi kawasan ini mulai terlihat, dimana dikawasan ini mulai terlihat pohon pohon pinus yang masih berukuran rata rata dua meter mulai menjamur dikawasan ini. Kini kecemasan orang orang yang melewati kawasan ini mulai berkurang ketika harus keluar masuk samosir. Namun, rasa nyaman yang mulai bertumbuh dalam benak pengguna jalur utama samosir ini kini harus mati di  pucuk batang muda ketika orang nomor satu di kabupaten yang di kelilingi danau toba ini menyetujui kawasan ini dikelola oleh sebuah perusahaan X  untuk di kembangkan menjadi sebuah taman bunga.
            Hal yang mungkin menjadi pertanyaan bagi sebagian besar  pihak adalah bagaimana pertimbangan yang telah di analisis oleh bupati samosir sehingga harus menyerahkan kawasan ini menjadi sebuah taman bunga. Mungkin nilai ekonomis wisata yang menjadi alasan utama tapi apakah hal ini sebanding dengan biaya yang selalu dikeluarkan pemda untuk memperbaiki dan merawat jalur ini  karena alasan longsor dan kurang memadainya kondisi hutan di sekitar jalur?. Hal yang terpenting apakah  sebanding dengan kecemasan setiap  orang yang melewati jalur ini terutama masyarakat samosir yang  keluar masuk kabupaten melalui jalur ini.

2.11.2012

Rahasia Vokal bernyanyi yang benar


CIapa  TW Penting..2nd ,,..
                                              
RAHASIA VOCAL(BERNYANYI)YANG BENAR ….,,,

Untuk menjadi seorang vocalis di perlukan pengetahuan teknik-teknik dasar vocal
Dimana tujuannya menghasilkan suara-suara & nada-nada yang merdu dan indah, selain itu mengetahui penggunaan pita suara kita yang benar jangan sampai rusak.
Unsur-unsur teknik vocal : 
1. Sikap Badan
2. Pernafasan Diafragma
3. Pembentukan Suara
4. Artikulasi Pengucapan
5. Resonansi
6. Phrasering
7. Vibrato 

Yang perlu di perhatikan dalam bernyanyi yaitu suara untuk bernyanyi tidak sama dengan suara dalam percakapan sehari-hari.
Suara untuk bernyanyi memerlukan pengelolaan yaitu dengan nada-nada yang tinggi rendah, rythem yang beraturan.
Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam bernyanyi.

1. Sikap Badan,
 berdiri atau duduk dapat dilakukan dalam bernyanyi. Tidak boleh kaku dan tegang, kedua belah tangan tidak boleh ada beban dan menggangu rongga dada, harus relax dan bebas.
2. Pernafasan adalah unsur terpenting dalam menyanyi.
Mengambil udara sebanyak-banyaknya dan mengeluarkan dengan hemat dan perlahan-lahan. Pernafasan dada dan perut tidak baik karena sangat dangkal dan tidak dapat tahan lama atau cepat lelah. Pernafasan diafragma inilah yang baik digunakan untuk bernyanyi, karena pernafasan ini dapat di tarik lebih dalam dan dapat di tahan lebih lama. Latihan nafas yang paling efektif yaitu dengan suara mendesis atau dengan notasi.
Perlu di ketahui bahwa pernafasan sukar di atur dan di kuasai apabila dalam keadaan :
• Kurang Sehat
• Rasa cemas, ketakutan, dan sedih
• Kurang konsentrasi karena demam panggung
 

3. Pembentukan suara 

a. Organ Suara
Bila suara ada di pangkal tenggorokan merupakan sumber suara manusia.
Bunyi yg berasal dari selaput suara itu ada 2 macam yaitu desah dan nada. Bunyi desah itu semacam letusan pada selaput suara, frekwensi bunyi desah ini tidak teratur. Sedangkan nada yaitu suara kita yang sedang bernyanyi terdengar nyaring, karena selaput suara meregang rata dan seimbang hingga frekwensinya pun teratur.
Kemudian untuk mendapatkan suara yang indah dalam bernyanyi, nada yang berasal dari selaput suara harus di olah lagi dalam ruang resonansi dengan suara falsetto (suara palsu).
Suara falsetto ini harus masuk ke rongga-rongga resonansi yaitu rongga dada, rongga tekak, rongga sinus, rongga mulut, rongga kepala. Didalam rongga-rongga resonansi ini lah suara yang berasal dari pita suara di perlebar, kemudian di dalam rongga-rongga resonansi ini pulalah suara di olah dengan teknik-teknik vocal sehingga menghasilkan suara nada-nada yang indah.

Pengolahan Suara : 
• Bentuk mulut dengan A, I, U, E, O
• Latihan pelemas bibir dengan pi pi pi pi, mo mo mo, mu mu mu
• Posisi lidah – lemas pada letaknya, tidak melengkung, jangan menjulur malampaui gigi

4. Artikulasi (Pengucapan) 

            Kata-kata harus di ucapkan dengan baik dan jelas. Misalnya ma, pa bukan menjadi me,moa, pe, poa, dsb Ucapan yang baik itu harus menggunakan alat-alat ucap yang ada di dalam mulut kita yaitu lidah, gigi, bibir dan pangkal lidah.
Untuk mempermudah ucapan kata-kata tersebut dapat diatur melalui rongga mulut serta posisi lidah dan bibir yang baik.

5. Resonansi 

            Resonansi berfungsi untuk memperluas dan memperindah suara sehingga terdengar merdu, nyaring dan menawan. Tentu di perlukan teknik-teknik resonansi seperti mengatur bentuk mulut, posisi bibir, posisi lidah sehingga merupakan kotak suara.
a. Pengucapan vocal A 
Mulut harus terbuka seperti lagi menguap, lidah agak ditarik ke dalam dan ujung lidah menyentuh gigi bawah.
b. Pengucapan vocal E
Mulut di buka lebih kecil dari pengucapan vocal A, kemudian dilebarkan kiri dan ke kanan dan di bunyikan menggema.
c. Pengucapan vocal I
Bentuk mulut hampir sama dengan bentuk mulut pengucapan vocal E. Perbedaannya ialah bibir atas dan bibir bawah lebih di rapatkan dan di suarakan menggema.
d. Pengucapan vocal O
Mulut di buka sedikit lebar dan kedua bibir di bulatkan dan lidah di tarik ke dalam.
e. Pengucapan vocal U
Mulut di buka lebih kecil dari vocal A.

            Setelah kita melakukan vocal dengan baik maka perlu berlatih menyuarakan huruf-huruf konsonan. Konsonan adalah huruf-huruf yang tidak berbunyi dan dapat berbunyi bila di hubungkan dengan huruf-huruf vocal, oleh karena itu dalam latihan menyuarakan konsonan di sertai dengan vocal. Konsonan dapat dibedakan menjadi beberapa macam :
• Huruf-huruf bibir (m, b, p)
• Huruf-huruf gigi (n, t, d)
• Huruf-huruf desis (s, c, z)
• Huruf-huruf langit-langit (h, g, k)

6. Phrasering 

Aturan pemenggalan kalimat bahasa, atau kalimat musik menjadi bagian-bagian yang lebih pendek tetapi tetap mempunyai kesatuan arti.
Phrasering terdiri dari 2 macam yaitu :
• Phrasering kalimat bahasa
• Phrasering kalimat musik

7. Vibrato 

Suara yang bergelombang (hidup) dalam bernyanyi, tidak semua kalimat lagu menggunakan vibrato, adakalanya kalimat lagu itu polos atau dikurangi. Vibrato yang berlebihan dapat mengubah nada dan vocal, sedangkan vibrasi yang di buat-buat akan memberi kesan seperti kedinginan

8. Penjiwaan 

Musik adalah universal yaitu bahasa dunia. Dari musik dan melodinya kita dapat menjiwai lagu itu dan harus di pelajari seperti syairnya, dinamikanya, melodikanya, temponya, karakternya, dan nada dasarnya. Terutama penjiwaan lagu itu bila kita dapat menghapal lagu itu maka akan jauh lebih sempurna.
Musik itu indah dan musik adalah bahasa universal, melalui musik kita bisa menginterprestasikan makna dan tujuan dari lagu itu. Dengan kata lain musik adalah bahasa dunia.
Dengan melatih vocal kita bisa mendapatkan banyak manfaat :
a. Correcting your voice and speaking
b. Healthty
c. Enrich your imagination
d. Self confident

A. Correcting voice and speaking
Banyak orang yang bernyanyi dan bicara dengan menggunakan suara yang salah sehingga menghasilkan bicara yang tidak enak di dengar. Bicara yang tidak dapat di dikontrol dengan suara yang keras dan berisik, dengan posisi suara yang tegang, cepat capek dan lelah, terasa tenggorokan kering dan serak dan bernyanyi juga banyak yang salah sehingga banyak menghasilkan nada-nada yang sumbang (false) dengan ucapan-ucapan yang tidak jelas. Nada-nada tinggi yang tidak tercapai dan nada-nada rendah yang tidak tepat sehingga menghasilkan suara dan nada yang tidak merdu, suaranya kasar, cepat lelah dan pita suara nya akan serak.
Jika sering dilakukan akan mengakibatkan kerusakan pita suara, ini sangat berbahaya, harus cepat disembuhkan yaitu dengan latihan vocal yang benar.

B. Healthy
Dengan melatih vocal kita bisa menolong dan mencegah bagi kesehatan kita dari berbagai macam penyakit :
- Penyakit pita suara
- Penyakit asma
- Penyakit sinusitis
Manfaat melatih vocal bisa menyembuhkan penyakit ini yaitu dengan menggetar resonansi di rongga sinus. Tiap hari dilatih sehingga rongga sinus nya bersih dari lendiran-lendiran yang menempel di rongga itu.
- Penyakit jantung
- Penyakit stress
- Penyakit stroke ringan
- Awet Muda
C. Enrich your imagination 
Melatih vocal bisa menambah daya imaginasi kita, kita bisa mencipta lagu, menghayal dengan gembira, menghayal dengan sedih, rindu dan mengasihi.

Satu lagi nih keajaiban musik. Musik ternyata nggak hanya mengaduk-aduk perasaan pendengarnya. Selain bisa membuat kita tertawa dan menangis, musik juga bisa menyembuhkan penyakit. Tidak penyakit psikis alias mental. Bahkan konon kabarnya, musik bisa menyembuhkan orang gila menjadi normal kembali.
The magic of music, kita bisa menyebutnya demikian. Musik-musik tertentu mempunyai sihir yang dapat menyenangkan hati dan menenangkan pikiran. Musik memiliki magnet untuk menarik perhatian dan merasang fungsi otak. Ia juga mudah dimengerti, asyik dinikmati, dan sangat efektif sebagai alat bantu mengingat. Ini yang membuat musik punya pengaruh besar dalam penyembuhan.
Julius Portnoy, seorang pakar musik seperti yang dijelaskan dalam majalah gadis, mengatakan kalau musik juga bisa mengubah laju metabolisme tubuh, meningkatkan dan menurunkan tekanan darah serta mempengaruhi energi tubuh. Akibatnya, tubuh yang awalnya tegang bisa sedikit mengendur dan kembali tenang setelah mendengarkan musik yang berirama tenang. Dalam keadaan tenang inilah tubuh kita terangsang untuk menghasilkan hormon endofrin yang membuat diri kita menjadi rileks.
Mau tau nggak cara musik menyihir dan menyembuhkan pasien-pasiennya? Nih, saya kasih tau rahasianya.
Dengan bernyanyi. Menyanyi digunakan untuk membantu orang yang menderita gangguan bicara agar bisa melatih artikulasi dan mengatur pernapasan. Setiap lagu yang dinyanyikan akan membantu mereka mengingat pengucapan kosakata baru. Sementara setiap lirik yang dilafalkan bisa membantu mereka yang mengalami gangguan ingatan.
Memainkan alat musik. Bermain alat musik bisa membantu mereka yang bermasalah dalm mengontrol emosi. Mempelajari alat musik juga akan membantu mengembangkan kemampuan musikal sekaligus mengembangkan kepercayaan diri, harga diri, dan disiplin.
Mencipta lagu. Ini berguna untuk mengembangkan rasa kooperatif dan saling berbagi rasa, ide, dan pengalaman. Khusus untuk anak-anak, dengan membuat lagu akan mendorong mereka untuk mengekspresikan diri dan memahami rasa takut.
Dengarkan musik. Mendengarkan dapat membantu mengembangkan kemampuan kognitif, seperti perhatian dan ingatan. Mendengarkan musik juga membantu pikiran menjadi rileks.
Oh ya, sihir musik ini tidak hanya bisa bagi orang sakit saja, lho. Tapi juga buat kamu-kamu yang sehat. Biasanya musik digunakan buat orang sehat yang ingin menambah spirit hidup. Ini terbukti dari banyaknya orang yang menggunakan musik sebagai kebutuhan sehari-hari. Misalnya, waktu kita belajar, dalam perjalanan, sampai saat akan tidur.
Jelas kan betapa kuatnya sihir musik itu. Bak kata Albus Dumbledore, “musik… more magic than magic it self!”. (kesehatan masyarakat Unand)















Latihan olah vokal

1. Pernapasan
Pernapasan terdiri dari dua yaitu pernapasan dada dan pernapasan perut.
Pertama, Pernapasan dada sangat mudah karena sering kita lakukan sehari-hari. Pernapasan dada adalah bernapas seperti halnya normal kita bernafas.
Kedua, Pernapasan perut dalam bernyanyi diperlukan agar bisa lebih tahan lama dan lebih maksimal mengeluarkan suara, power kita akan keluar. Pernapasan perut memungkinkan kita untuk bernyanyi dengan menggunakan ‘teknik’ bernyanyi. Latihan untuk membiasakan pernapasan perut ketika kita bernyanyi terdiri dari 4 langkah sebagai berikut :
1. Ambil udara dari mulut sekuat-kuatnya, masukkan ke dalam perut kita.
2. Setelah bisa merasakan bahwa udara telah memenuhi perut kita (seperti ada balon dalam perut kita yang terus kita pompa)
3. Lalu keluarkan udara dengan suara yang mendesis atau mirip suara angin yang keluar dari ban mobil bocor. Suara tersebut harus datar tidak boleh bergelombang. Rahang kita dalam keadaan santai, lidah dan gigi kita digunakan seakan-akan menghalangi aliran udara. Sehingga kita harus berusaha keras untuk mengeluarkan udara dari perut. Proses pengeluaran suara dari mulut tersebut biasanya bervariasi yaitu antara 20-60 detik.
4. Setelah selesai mengosongkan perut, teruskan latihan tersebut selama lima kali. Proses latihan pernapasan ini akan berpengaruh pada otot abdominal kita yang biasa digunakan untuk bernyanyi.
Latihan di atas disebut dengan Hissing Cycle. Jika tiap hari kita berlatih teknik ini dengan durasi waktu cukup 5 menit saja maka 2 minggu kemudian akan sangat terasa sekali pengaruhnya terhadap kualitas vokal kita. Insya Allah.
Yang Kedua Mengeluarkan suara ketika bernyanyi
2. Mengeluarkan suara ketika bernyanyi
Ada 4 cara untuk mengeluarkan suara
1. Pertama yaitu dari dada, digunakan untuk suara yang rendah dan halus. Nada-nada rendah menerapkan pengeluaran suara dari dada. Caranya yaitu dengan merasakan bergetarnya dada ketika kita mengeluarkan suara. Posisi Bas pada tim nasyid (acapella) banyak menggunakan teknik ini.
2. Kedua, di tenggorokan, biasanya kita bernyanyi di wilayah ini dan akan sangat capai sekali bila kita terus bernyanyi di wilayah ini. Seorang penyanyi yang amatir akan terus bernyanyi di wilayah ini sehingga akan kedodoran dan get hoarse/parau. Kita berbicara menggunakan teknik ini.
3. Ketiga, di mulut hampir sama dengan di tenggorokan.
4. Terakhir adalah di luar mulut (seakan-akan berada di atas kepala, biasa disebut dengan resonansi) digunakan untuk suara yang tinggi dan memungkinkan keluar suara secara maksimal dengan dibantu pernapasan dari perut. Ketika kita berteriak tanpa terasa kita menggunakan teknik ini.
Teknik mengeluarkan suara yang telah dijelaskan di atas digunakan semuanya ketika kita bernyanyi. Untuk nada yang rendah, kita gunakan suara dada. Untuk nada yang normal kita gunakan suara tenggorokan, yang lebih tinggi dari suara normal kita, gunakan suara mulut. Dan nada yang paling tinggi, kita pergunakan suara resonansi kita. Perlu berlatih lama untuk bisa membedakan dan membiasakan cara pengeluaran suara tersebut.
Dan Yang Terakhir ato yang ke 3
3. Pemanasan
1. Mulai dengan pernapasan perut: praktekkan pernapasan perut di atas pada awal latihan
2. Cara mengeluarkan suara:
A I U E O: lafalkan bunyi huruf vokal ini yang di urut dari nada rendah sampai dengan nada tinggi yang bisa kita capai.
3. Dinamisasi
- ma ma ma ma ma ma ma ma (2X)
ma ma ma ma ma ma ma ma ma……….
- ni ne no ha! ha! ha (3 X)